MENYUSURI SUNGAI KALARU YANG MELEGENDA DAN MISTIS (bagian 2 Habis)

oleh -10 views
MENYUSURI SUNGAI KALARU YANG MELEGENDA DAN MISTIS (bagian 2 Habis) 1
Proses pengambilan ikan dari Salambau

Oleh : M.EFFENDI

KASONGAN – Keunikan alat tangkap yang terbuat dari tali (Salambau) dibandingkan dengan alat tangkap ikan Tradisional lainya,Salambau hanya dipasang pada saat tertentu atau memasuki musim kemarau dan tidak semua Nelayan memiliki karena termasuk alat tangkap Tradisional yang langka.

Dipasang pada musim kemarau karena saat itu ikan yang bertahun-tahun beranak pinak, akan migrasi secara Massal, akibat debit air di danau mengalami pendangkalan, akhirnya memaksa segerombolan ikan akan keluar melalui anak-anak sungai yang berhulu ke danau mengikuti arus air menuju ketempat yang lebih dalam demi mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berkembang-biak.

Salambau Alat Penangkap Ikan Tradisional Yang Memberi Berkah Bagi Warga Di Musim Kemarau

Di anak sungai itulah alat tangkap yang menyerupai kelambu terbalik itu dipasang, bagian ujungnya (hulu) dibuka selebar mungkin untuk menghalangi, supaya ikan-ikan yang keluar langsung masuk ke Salambau.

Ukuran Salambau bervariasi. disesuaikan dengan panjang atau lebarnya anak sungai, minimal panjangnya 50an meter dan lebar 4 Meter.

Menurut Lulung lokasi Salambau yang berhulu ke Danau Ahim tersebut selalu dirawat dan dijaga sejak Puluhan tahun yang lalu oleh Almarhum Orang Tuanya dan Ia merupakan Generasi kedua.

Sambil sesekali menyeruput secangkir kopi panas sebagai penghangat, dia menceritakan “kondisi Cuaca mempengaruhi hasil tangkapan, kalau cuacanya cerah seharinya hasil tangkapan bisa mencapai 100 kilo atau satu pikul, tapi kalau turun hujan hasil tangkapan agak berkurang paling-paling 30-50 kilo sehari.”katanya sambil menikmati sebatang rokok Read Bold kesukaannya.

Sebelum dijual ke pengepul puluhan kilo ikan segar itu sebahagian, terlebih dahulu disiangi atau dibersihkan (disisik dan dibuang isi perut ikan) akan diolah menjadi ikan kering.

Proses penyiangan ikan terbilang cepat karena dibantu oleh beberapa orang warga, dengan imbalan jeruan atau kepala ikan itu pun bagi yang mau.

Ternyata Tradisi Handep (gotong-royong) tersebut sudah berlangsung turun-temurun puluhan Tahun yang lalu.

Sebuah pesan Moral yang menggambarkan keakraban dan rasa kekerabatan masih terjalin dengan harmonis.

Aturan tidak tertulis namun dipatuhi, sungguh luar biasa dan patut diacungi jempol.

Sekitar pukul 16.00 WIB sore ikan-ikan yang masih dalam kondisi segar (basah) baru diantar ke pengepul.

Mareka, nelayan Tradisional tidak perlu takut hasil tangkapan nya tidak akan laku, karena di Desa Telaga pengepul terbilang cukup banyak dan siap membeli hasil tangkapan berapa pun yang diperoleh.

Banyaknya para pengepul menjadi keuntungan bagi Nelayan saat menjual hasil tangkapan nya, karena harga ikan tetap stabil.

Harga ikan di tingkat pengepul untuk ikan segar (ikan dalam keadaan masih utuh) satu kilogramnya dihargai Rp 12,000,- ( 1 Kilogram minimal 2 ekor) sementara ikan yang akan diolah menjadi ikan kering (sudah disisik dan buang perutnya) dihargai Rp.17,000,-

Bayangkan kalau dalam satu hari saja hasil tangkapan bisa mencapai 50 bahkan 100 Kilogram (1 pikul) pada musim seperti ini, berapa duit dan penghasilan yang Mareka peroleh.

Kata terakhirnya hanya Ucapan Syukur Kepada Yang Maha Kuasa, Tuhan Semesta Alam yang telah Memberikan Sumber Daya Alam Yang Melimpah.(Selesai)

Penulis adalah wartawan dayaknews.com biro kabupaten katingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *