Tajuk: BERGERAK MAKIN DINAMIS, PETA PERPOLITIKAN KALTENG

oleh -133 views
Barthel B Usin

Oleh: Barthel B Usin/Pemred Dayak News

Pergerakan peta politik, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020, ditengah pandemi covid-19, terlihat “bak tenangnya, air Samudara, ketika tak tersentuh hembusan angin”.

Namun sesungguhnya air dilaut tersebut sangat dalam. Banyak terkandung berbagai habitat di dalamnya. Dengan segala langkah dan “persilatan” didalam komunitas tersendiri.Begitulah, gamnaran kondisi peta perpolitikan di Bumi Tambun Bungai, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Menggunakan kacamata jurnalis, tampaknya juga hanya sedikit yang mampu “melihat” kondisi gerakan antar habitat yang kini sudah mulai memasang teropong canggih mengintif gerakan lawan.

Tapi sesungguhnya.Politik memang dinamis.Setiap detik, menit, jam, hari sampai bulan terus bergerakan. Denyut dinamis itu akan semakin terasa suhunya, hingga “pertempuran” sesunguhnya sebagai penentu di bilik Tempat Pemungutan Suara (TPS) tanggal 9 Desember 2020.

Menentukan keberhasilan di TPS itu ditentukan banyak faktor untuk mempengaruhi suara masyarakat yang punya hak pilih. Banyak suara lantang terdengar ketika membaur ikut obrolan di warung kopi.Pokoknya, semua punya analisa dengan pengalan tersendiri.

Bandhi, salah satu yang ikut hanyut dalam diskisi mengatakan, Pilkada itu mencari pimpinan yang dapat mengayomi kepentingan masyarakat luas, hingga terjadi perubahan kehidupan yang lebih baik secara umum. Tapi itu teori saja. Gila, jika terjadi seperti di Pemilu legislatif.”Berani Piro” bisa mempengaruhi logika dari para pemilih.

Dikatakan, semoga hal itu tidak terjadi di Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur tahun 2020 ini.”Salah pilih, maka masyarakat secara umum juga yang merasakan akibatnya.

Dari hasil diskisi singkat dari warung kopi itu pula, sedikit tersingkap dinamisnya gerakan politik di Pilkada Guberbur Kalteng tahun 2020.

Kesimpulan, tidak ada yang memastikan berapa pasang calon yang akan bertarung.Hanya suara umum yang sedikit yakin, calon perorangan besar kemungkinan tidak ada muncul di Pilgub Kalteng tahun 2020.

BACA JUGA :  WASPADA PENGRUSAKAN MASYARAKAT ADAT DI INDONESIA

Sambil memainkan coretan tinta diatas kertas, beberapa peserta obrolan politik informal itu, ada mendapat gambaran sementara tentang hitungan partai untuk bertanding.

PDIP sebagai partai pemenang pemilu pegang kartu kendali.Sebelum partai berlambang banteng moncong putih ini pimpin kendali. Sebelum ketuk palu partai ini, maka palu partai lain tidak ada juga yang memulai perdengarkan suara ketukannya.

Kesimpulan, jika tidak terjadi gerakan “saling bunuh”. Berjalan Pilkada yang sehat, mencari pimpinan terbaik dengan memberi kesempatan bagi pemilik suara menentukan pemimpin. Maka sangat bagus dimunculkan lebih banyak calon pemimpin bagi rakyat. Maka sampai empat pasang bisa terjadi.

Pasangan pertama diusung PDIP, kedua oleh Demokrat dan PKB, Ketiga Golkar dan Nasdem. Keempat oleh Gerindra, PAN, Perindo dan Hanura serta PPP.

Kembali lagi, politik memang dinamis. Semakin dekat pintu gerbang tujuan vinis perlombaan penenentu perebutan “petahu” politik, akan semakin “memanas” permainan.

Akhirnya, tujuan fokus menuju satu kata.”MENAMG”.Memujudkan satu kata itu. Tidak mungkin menjadi mungkin.Pridiksi empat pasang bisa terjadi, bisa saja hanya ikut pertandingan tertinggal dua pasang.

Tapi menggiring dinamisnya permainan politik itu, jika ingin, mewujudkan Pilkada ini berhasil perlu pengawasan ketat. Pilkada ini mengeluarkan uang rakyat tidak sedikit, terlebih ditengah kondisi ekonomi negara makin terpukul akibat imbas krisis kesehatan saat ini.

Perlu diperkuat, jika ingin mendapat pemimpinan sesungguhnyan sesuai nurani masyarakat, maka perlu diperkuat langkah pengawasan dari aparat dan masyarakat.

PENGAWASAN MASYARAKAT JANGAN SAMPAI TERPENGARUH OLEH IMING-IMING.BISA ATAU TIDAK MEMBAWA PERUBAGAN BAGI MASYARAKAT, SEORANG PEMIMPIN HASIL PILIHAN RAKYAT KEMBALI DIRASAKAN OLEH MASYARAKAT.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *