Kisah Pendidik Melawan Covid

oleh -7 views
Kisah Pendidik Melawan Covid 1

(Oleh : Saripudin)

Aromanya khas. Rasanya dominan asin dengan sensasi gurih. Digoreng dengan irisan bawang putih dan merah, plus cabai, wow istimewa nikmatnya.

Sebagian besar masyarakat Kalimantan menyebut lauk ini “wadi”. Popular sebagai teman menyantap nasi warga Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur sejak jaman nenek moyang.

Lauk tradisional ini dibuat dengan cara difermentasi sekitar 7 hari (sepekan). Seluruh proses pembuatannya  alami dan tidak menggunakan bahan pengawet apapun.

Adapun bahan ikan yang bisa dibuat bebas, tergantung selera dan ketersediaan ikan yang ada.

Di masa pandemi Covid-19 ini, itu coba digiatkan kembali. Pembuatnya, ibu-ibu rumah tangga warga Jalan Hiu Putih, Palangka Raya. Instruktur sekaligus pelatih pemasarannya empat dosen pendidik Universitas Palangka Raya (UPR) dibantu kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) “Cahaya”.

Keempat dosen itu antara lain, Dr. Wahyu E. Setiawan, S.Psi., M.Pd, Dr Luluk Tri Harinie, SE., MM, dan Syahril Uhing, SP.

“Kami dari Tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) Program Studi  Megister Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Program Pascasarjana UPR menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini selama 2 hari pada Nopember 2020 tadi,” terang koordinator tim, Dr. Wahyu E. Setiawan kepada Dayak News, pekan tadi.

Dijelaskannya, kegiatan PkM ini merupakan bagian dari tugas Abdimas Megister PLS Program Pascasarjana UPR sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Wahyu menyebut, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga kini sangat berpengaruh pada kemampuan ekonomi masyarakat. Kegiatan pendampingan berupa pelatihan pembuatan wadi pindang dari bahan ikan patin ini digelar guna membantu warga di situasi demikian.

“Dalam pelaksanaannya, tim kita bekerja sama dengan Rina Handayani, SP dan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) Cahaya. Sedangkan peserta kegiatan sebanyak lima ibu rumah tangga warga Jalan Hiu Putih,Kelurahan Bukit Tunggal, Kota Palangka Raya,” sebut Wahyu.

Dia memaparkan, penentuan bentuk pengabdian diawali dengan analisa situasi terhadap kondisi terkini masyarakat, khususnya warga Jalan Hiu Putih, beberapa waktu lalu.

Dari monitoring itu, diketahui bahwa bahwa sejumlah pembatasan sebagai dampak pandemi Covid-19 menyebabkan aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan masyarakat terganggu. Padahal aktivitas tersebut sebagian besar merupakan kegiatan warga dalam mencukupi kebutuhan hidup mereka.

“Ada inisiatif ibu-ibu disini melakukan inovasi dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya,” terang Wahyu.

Seperti diketahui, wilayah Provinsi Kalimantan Tengah memang memiliki berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat untuk menunjang ekonomi. Salah satunya potensi perikanan. Terbukti dengan tingginya produksi peternakan ikan patin di daerah ini.

Potensi tersebut masih belum dimaksimalkan oleh masyarakat sebagai sumber usaha dalam meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Tim Abdimas kemudian tertarik melakukan pendampingan melalui program pengabdian masyarakat dengan judul ‘PkM Pendampingan Pelatihan Pengolahan Wadi Pindang’ kepada ibu-ibu rumah tangga di Jalan Hiu Putih,” ujarnya.

Pendampingan tersebut dibagi dalam dua tahap. Diawali paparan dari instruktur, dilanjutkan diskusi bersama mitra dan warga binaan. Selanjutnya diteruskan dengan pelatihan pembuatan wadi pindang patin.

Di pelatihan tersebut, tim juga melatih para para ibu melakukan pengemasan yang rapi dalam boks-boks siap jual ke konsumen. Kesepakatan ibu-ibu peserta pendampingan, produk ini kemudian dilabeli Wadi Patin “Batuah” Bukit Tunggal.

Proses pemasaran produk ini dilakukan secara online. Metode ini dinilai efektif di masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Melalui aplikasi chatting media sosial whatsapp, ibu-ibu rumah tangga mitra Abdimas memiliki  kemampuan  dan  keterampilan  dalam membuat  interaktif  digital  promosi bagi produk usahanya yang sesuai dengan pasar saat ini,” terang Wahyu.

Dari pengamatannya, motivasi ibu-ibu rumah tangga mengikuti pelatihan ini relatif tinggi. Mereka optimistis pengembangan usaha itu dapat mendatangkan rejeki di saat pandemi Covid-19 saat ini.

Adapun kendala yang masih dihadapi, terutama dalam memotivasi peserta untuk konsisten melakukan pengembangan aktivitas usaha ini.

“Perlu dukungan penuh dari pemerintah dan dinas terkait untuk melakukan pembinaan kelompok-kelompok seperti ini. Sebab, mereka bisa menjadi kader penggerak ekonomi di masyarakat, terutama di masa pandemi seperti saat ini,” sarannya.

Ditambahkannya, hasil pendampingan ini sendiri akan dijadikan salah satu referensi mata kuliah pada Program Studi Megister PLS Program Pascasarjana UPR. Di antaranya, ilmu kewirausahaan dan social entrepreneurship, andragogi dalam pendidikan masyarakat, serta kajian pemberdayaan masyarakat di daerah gambut dan Daerah Aliran Sungai (DAS).

BANTUAN NAN TEPAT SASARAN

Berbeda lokasi, masih di wilayah Kota Palangka Raya, tim dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP) juga keluar dari kampusnya. Mereka menyambangi ibu-ibu warga Kelurahan Kereng Bangkirai yang juga galau karena pandemi.

Ketiganya adalah Lilik kholisotin MPdI, Sadar MIP, dan Nasihatud Diniyah Jahro’ MPsI, para pengajar Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam UMP.

Bekerja sama dengan pengurus pengajian ‘Aisyiyah Ranting Kereng Bangkirai, mereka menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) di tengah-tengah warga untuk memberikan bimbingan spiritual guna meningkatkan coping stress akibat pandemi Covid-19.

Ketua tim Lilik Kholisotin menyebut, Pengmas merupakan kewajiban pengajar di UMP sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini merupakan tugas rutin para pengajar setiap tahunnya.

“Pelaksanaan pada Juli 2020 lalu dengan peserta 35 ibu-ibu warga Kereng Bangkirai. Kegiatan dibuka perwakilan LP2M UM Palangka Raya Pienyani Rosawanti MSi. Adapun materi yang kita sampaikan menyangkut aqidah dan ibadah,” terang Lilik.

Kisah Pendidik Melawan Covid 2

Dia melanjutkan, dari tatap muka dengan masyarakat ini, pihaknya mengetahui banyaknya dampak pandemi Covid-19 yang dialami masyarakat, khususnya kaum perempuan di Kereng Bangkirai ini.

“Banyak dari mereka yang suaminya bekerja sebagai pedagang, buruh bangunan, dan lain-lain. Saat pandemi, ada aturan pembatasan sehingga aktivitas mereka tidak bisa dijalankan. Akibatnya pendapatan mereka berkurang,” sebut Lilik.

Kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat tersebut membuat kaum ibu-ibu ini dilanda kekhawatiran. Tekanan psikologis itu berdampak pula pada berkurangnya intensitas ibadah mereka, terutama salat lima waktu. Apalagi ketika itu salat berjamaah di tempat ibadah juga tidak bisa dilaksanakan.

“Dalam pengabdian masyarakat ini kita mencoba memahami kondisi psikologis mereka terlebih dahulu. Kemudian mengajak memperkuat akidahnya, serta rajin kembali beribadah. Alhamdulillah mereka cukup antusias mengikuti kegiatan ini,” tuturnya.

Lilik melanjutkan, pasca-Pengmas ini, peserta kegiatan termotivasi kembali meningkatkan peribadatannya. Mereka juga tergugah untuk berinovasi dalam berusaha guna mencukupi kebutuhan keluarga.

Di samping memberikan bimbingan spiritual, tim bersama pengurus pengajian membagikan bantuan paket sembako dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ‘Aisyiyah Kota Palangka Raya kepada para peserta.

Dia menambahkan, sejatinya program-program bantuan dari pemerintah dari pusat hingga daerah sangat berarti untuk menunjang perekonomian masyarakat di masa pandemi Covid-19 ini. Di antaranya bantuan dana tunai yang dialurkan melalui Kementerian Sosial, tunjangan Pra Kerja, serta permodalan untuk UMKM. Sayangnya, bantuan tersebut sepenuhnya tepat sasaran. “Masukan saja untuk pemerintah. Mungkin pendataan bantuan-bantuan ini bisa dibenahi lagi. Banyak masyarakat yang sebenarnya lebih terdampak dengan pandemi Covid-19 tetapi tidak terdaftar sebagai penerima. Malah mereka yang secara ekonomi mampu yang dapat,” ungkapnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *