KISAH MISTIK TENTANG BUAYA KUNING YANG TERTANGKAP DI DESA LUWUK KIRI, SEMPAT KELUARKAN AIR MATA (bagian 1)

oleh -
KISAH MISTIK TENTANG BUAYA KUNING YANG TERTANGKAP DI DESA LUWUK KIRI, SEMPAT KELUARKAN AIR MATA (bagian 1) 1

Kasongan, (Dayak News) – Daratan dan Perairan Kalimantan Tengah yang masih banyak terdapat hutan lebat menyimpan berbagai kisah misteri yang sulit diterima akal sehat. Salah satunya cerita tentang Buaya Kuning yang menjadi penjaga dan penunggu perairan.

Tahun 1980 santer cerita di desa Luwuk Bunter Kotawaringin Timur, seorang warga tersesat selama berbulan bulan di tengah hutan. Beruntung, ia berhasil diselamatkan Buaya warna kuning. Dalam kesaksiannya, Binatang itu, mengarahkannya untuk keluar hutan lewat sungai dan memberi makan berupa ikan. Dalam ingatannya, Makhluk itu sempat memberi dua buah kunyit sebelum menghilang, hingga pria uzur ini berhasil ditemukan penduduk berada dalam sebuah hutan keramat belakang kampung.

Selama satu bulan ia lupa mencari kunyit yang ditaruh di kantong celana. Isterinya yang mencuci pakaian terkejut saat membersihkan kantong mendapat dua batang logam, setelah diperiksa ternyata emas murni.

Kini warga Katingan heboh dengan ditemukannya seekor Buaya Kuning di Desa Luwuk Kiri, Sabtu (23/10).

Ketika masuk dalam perangkap ikan, milik warga desa Luwuk Kiri, Kabupaten Katingan, Buaya Kuning terlihat tenang. Namun, saat dibawa ke daratan dengan kaki tangan serta mulut terikat, Buaya jenis Sapit ini terlihat mengeluarkan air mata.

Pancaran mata dan raut wajahnya menggambarkan kesedihan. Terlebih dengan kedatangan warga yang berbondong bondong untuk melihat dari dekat binatang langka ini. Tangisan Buaya, bisa menjadi ungkapan merasa bersalah, karena telah memakan semua ikan dalam perangkap.

Dahulu kala ketika ada warga yang meninggal dimakan buaya, maka hukumnya, predator itu, harus dicari dan wajib dibunuh. Pawang biasanya mencari pembunuh tersebut dengan kekuatan magis. Dan buaya bersalah yang telah tertangkap mengeluarkan air mata sebagai tanda.

Buaya Kuning di Katingan, tertangkap saat masuk dalam jebakan ikan Kari milik warga desa Luwuk Kiri, Sabtu, (23/10).

Semestinya perangkap berbentuk kotak segi panjang dengan ukuran sekira 3×3 x3 meter peruntukannya untuk menangkap ikan.

Jebakan ikan yang disebut pangilar oleh suku dayak, terbuat dari bahan kayu dan tali. Rangka kotak dirangkai dari kayu. Dinding dirajut dengan tali. Sedangkan Pintu bagian luar berukuran lebar sedangkan sisi dalam berdimensi sempit, sehingga binatang yang masuk tidak bisa keluar.

Yadi, sang pemilik perangkap, sempat berniat melepaskannya. Namun, ia merasa perbuatan yang akan dilakukan mengandung resiko. Akhirnya dengan pertimbangan itu, berinisiatif membawanya ke kampung dengan ditarik perahu motor.

Seorang wanita paruh baya sempat kemasukan roh halus. Sambil menangis ia meminta untuk melepas kembali. “Ini cucuku yang berasal dari Sungai Kalaru. Tolong lepaskan. Ia tidak menganggu dan menyakiti orang,” ungkap ibu ini sambil menangis histeris.

Warga beriktiar menanyakan tentang keberadaan buaya itu. Sang ibu menjawab berasal dari Kalaru, anak sungai Katingan. Ketika ditanya apa saja syarat yang diminta untuk melepas buaya kuning itu, ia tiada menjawab.

Melihat kondisi itu, warga berinisiatif untuk membuka ikatan tali serta menempatkannya dalam kolam air beralaskan terpal warna biru. Konon, air kubangan Buaya ini dapat dijadikan obat gatal, untuk memiliki keturunan serta bermacam khasiat.

Penduduk akhirnya menggagas ritual adat. Sesaji disiapkan berupa rokok, telur, beras dan kain kuning ditempatkan dalam wadah semacam mangkok. Kemenyan dibakar. Sang pawai memimpin upacara, komat kamit.
Tampung tawar dijadikan sarana untuk mencegah musibah atas pertanda buruk.

Sekira jam 16.30 WIB, Sabtu (23/10) usai acara adat, warga bersama aparat dan petugas BKSDA Provinsi Kalimantan Tengah mengembalikan buaya keramat itu ke habitat asal.

Ada pemandangan menarik dalam feri. Binatang dengan panjang 2 meter dan berat 40 kg ini, diam tak bergerak. Setelah mendekat lokasi ditemukan, ia bergerak gerak ingin menceburkan diri. Pawang Buaya secara pelan mendorong untuk terjun ke air.

Berada dalam air, hewan buas ini tidak langsung pergi. Ia sempat menoleh dan menatap lekat warga yang mengantar kepergiannya. Seolah olah memberi ucapan terima kasih dan salam perpisahan. Binatang bersisik ini, secara perlahan lenyap ditelan arus sungai Katingan.

Kepala BKSDA Provinsi Kalimantan Tengah melalui Kasi wilayah I Junaidi Slamet Wibowo mengatakan, hewan malang itu, dalam keadaan sehat saat dilepas liarkan.

Ia menduga kemunculannya, karena terbawa arus banjir dibulan September lalu.

“Sebenarnya warna asli buaya sama, hitam kecoklatan. Tapi akibat pengaruh air, maka warnanya berubah menjadi warna kuning, putih dan warna lain,” katanya,” Minggu (24/10).

Sementara pejabat Kepala Desa Luwuk Kiri, Hendrik berharap, kedatangan buaya keramat itu menjadi pertanda baik dan membawa rejeki. Memang ada warga desa yang bermimpi tentang Buaya Kuning ini, kisahnya, Senin (25/10). BERSAMBUNG (DAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.