KISAH SUKSES SURANI, BAKUL PECEL PERTIGAAN SOEKARNO HATTA- TJILIK RIWUT KASONGAN

oleh -
oleh
KISAH SUKSES SURANI, BAKUL PECEL PERTIGAAN SOEKARNO HATTA- TJILIK RIWUT KASONGAN 3
Surani

Oleh : Dany Yuswanto (Kepala Biro/Wartawan Dayak News Katingan)

KISAH SUKSES SURANI, BAKUL PECEL PERTIGAAN SOEKARNO HATTA- TJILIK RIWUT KASONGAN 4
Dany Yuswanto

Dayak News – Sukses bukan hanya milik orang yang bermodal. Tapi kesuksesan akan berpihak kepada orang yang selalu berusaha bekerja keras dan pantang menyerah. Surani (54) membuktikan jika sukses akan menghampiri orang yang mau bekerja keras dan jujur. Berjualan nasi pecel di sebuah warung kecil, Surani kini telah memiliki asset mencapai Milliaran Rupiah.

Gubuk reot pertigaan Tjilik Riwut – Soekarno Hatta menjadi saksi bisu perjuangan Surani (54) bersama anak dan isteri lima tahun silam. Berbekal kegagalan usaha dari Kota Tulung Agung ia nekad merantau menuju Kalimantan Tengah tepatnya Kota Kasongan.

“Harta saya ludes terjual untuk menutupi utang dan hanya tersisa 22 juta,” kenangnya saat dibincangi Media ini, Jum’at (1/12 2023).

Tekadnya pun bulat untuk merantau menuju Kota Kasongan Kalimantan Tengah. Meskipun tak memiliki sanak saudara dan relasi. Hati nuraninya memilih Kasongan sebagai tempat persinggahan memulai lembaran baru.

Gubuk pun dibangun tepat di pinggiran jalan Trans Kalimantan pertigaan Soekarno Hatta Kasongan. Guna menghemat, bangunan itu hanya beratapkan asbes dan berlantaikan tanah. Begitu rendahnya bangunan, sehingga pembeli harus membungkukkan badan jika ingin masuk. Warung makan itulah yang dijadikan tempat tinggal dan berusaha Surani sekeluarga.

KISAH SUKSES SURANI, BAKUL PECEL PERTIGAAN SOEKARNO HATTA- TJILIK RIWUT KASONGAN 5

Pertama kali berjualan, Surani menyiapkan menu nasi pecel. Namun ketika itu para pembeli sangat sedikit. Itu pun ada beberapa yang hanya mampu membayar seadanya bahkan berhutang.
“Kebanyakan pembeli adalah pekerja bangunan dan sopir,” tuturnya.

Merugi, tak membuatnya patah arang. Ia tetap membuka warung seperti sedia kala. Makanan yang tak laku menjadi sajian makan Surani sekeluarga, lebihnya dibagikan untuk tetangga yang kebetulan bersebelahan.

BACA JUGA :  Cuaca Yang Tidak Pasti, Membuat Polsek Jelai Waspada Karhutla

Kreatifitas terus dilakukan, mulai dari memperbanyak menu jualan hingga buka selama 24 jam. Ternyata upaya itu efektif, konsumen terus bertambah. Dari buruh bangunan, sopir hingga pekerja kantoran.

Menu jualan pun tergolong sangat murah. Mulai dari Rp13 ribu hingga Rp28 ribu. Jika ingin makan ayam geprek, cukup sediakan dana Rp13 ribu lengkap dengan teh es. Sedangkan untuk lalapan ayam dibanderol Rp28 ribu. Cukup murah bukan?

Selama lima tahun berjualan, Nurani menabung Rp1 Milliar. Dana tersebut akhirnya untuk membuka usaha baru membeli dump truk dan mobil. Sisanya untuk membeli tanah dan membangun rumah di Kota Tulung Agung.

Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan Surani Sekeluarga. Warung makannya sepi pembeli. Meskipun kurang pengunjung, warung terus buka 24 jam.
“Harga murah dan terus buka ternyata malah menjadi kunci kesuksesan,” kisahnya.

Menurut dia, semua usaha jika ditekuni akan membawa keberkahan. Semangat pantang menyerah serta selalu optimis adalah sebuah kata kunci. Usaha tak akan mengkhianati hasil.

Namun, meskipun secara ekonomi sukses, ternyata ada satu hal yang menjadi impian Surani sekeluarga. Keinginannya bersama keluarga untuk menginjakkan kaki di tanah suci Mekah sampai saat ini belum tercapai.
“Impian akhir saya membawa keluarga memenuhi panggilan menuju tanah suci Mekah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.