MUHAMMAD HARDY, CALON KADES INSPIRATIF AKAR RUMPUT

oleh -
MUHAMMAD HARDY, CALON KADES INSPIRATIF AKAR RUMPUT 1
Muhammad Hardy

Kasongan, (Dayak News)– “Saya sering menangis melihat warga yang sakit tanpa mendapat pengobatan. Pola bekerja mencari nafkah hanya untuk kebutuhan saat itu, ketika sakit untuk mencari makan saja susah. Apalagi untuk berobat, terkadang hati kecil saya menjerit,” ungkap Muhammad Hardy, Minggu (7/11).

Suatu ketika ada warga Desa Samba Katung yang mengidap penyakit komplikasi, kebingungan untuk biaya berobat. Ia membantu pengurusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai salah satu syarat memperoleh pelayanan kesehatan secara gratis.

Ketika ingin mengantar pasien ke Puskesmas, ia prihatin dengan kondisi penderita yang belum makan. Pria berusia 26 tahun ini, akhirnya menyerahkan uang Rp300 ribu kepada pasien, padahal duit itu untuk bertahan sebelum gajihan.

Beranjak dari keprihatinan mendalam, guru honorer disalah satu SMA Negeri kasongan ini turut serta mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Samba Katung.

Menurutnya dengan mengabdi sebagai kepala desa, maka langsung bersentuhan dengan kebijakan-kebijakan dalam pengelolaan Dana Desa. “Saya pastikan jika terpilih, dana desa sebagian besar diperuntukkan kesejahteraan rakyat. Keberpihakan untuk masyarakat,” imbuhnya.

Dibesarkan dari keluarga kurang mampu, Muhammad Hardy memiliki pengalaman pahit yang menempanya. Usia dua tahun, harus kehilangan sosok seorang ayah yang meninggal dunia, terkena penyakit kolera.

“Ayah meninggal di rumah tanpa tersentuh obat obatan medis dan hanya berobat kampung,” tuturnya.

Mendasari itu, salah satu programnya adalah “SEHAT.” Program itu bertujuan membantu masyarakat dalam mendapat pelayanan berobat melalui jalur SKTM dengan memberi kemudahan administrasi.

Melakukan pemantauan terhadap proses pengobatan hingga sembuh. Meningkatkan pelayanan di rumah bersalin, puskesmas pembantu dan menciptakan lingkungan sehat.

“Warga kurang mampu yang ingin berobat dibantu melalui jalur SKTM. Kami akan jemput bola, mendatangi warga yang sakit hingga memproleh pengobatan gratis. Pemantauan akan dilakukan sampai pasien sembuh,” jelasnya.

Sosok seorang ibu masih terpatri dalam benak Muhammad Hardy, bersama lima orang saudaranya. Sebagai anak bungsu, ia merasakan bagaimana getirnya, jika selalu kekurangan. Untuk bersekolah, terkadang menggunakan sepatu dan tas usang yang sudah rusak.

Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan yang diberikan oleh Tuhan. Meskipun hidup serba kekurangan, ia berhasil menamatkan sekolah di salah satu perguruan tinggi swasta Kota Kasongan. Aktif berorganisasi pada salah satu organisasi kemahasiwaan membentuk karakter pemimpin dalam jiwanya.

“Dulu ketika kuliah, saya bekerja guna mencukupi kebutuhan hidup sehari hari. Terkadang untuk bayar uang sekolah harus mengumpulkan terlebih dahulu. Akibatnya, mesti meminta kelonggaran dari sekolah,” ujarnya.

Tidak salah, dalam salah satu misi dan visinya Muhammad Hardy, menekankan program “CERDAS.” Meningkatkan sumber daya manusia dengan pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Memberi beasiswa, baik melalui program Indonesia Pintar maupun bersumber dana desa.

Selain itu, ada dua program yang direncanakan. “TERBUKA” dalam artian transparan dalam mengelola pemerintahan desa, bersedia menerima kritik dan saran serta selalu terbuka dalam pengelolaan keuangan.

Muhammad Hardy juga menekankan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat. “AGAMIS” dengan membangun kerjasama lembaga keagamaan, meningkatkan kegiatan keagamaan seperti baca tulis Qur’an, Pengajian, membantu warga yang ingin menyekolahkan anaknya lewat pesantren.

“Kami selalu menampung aspirasi masyarakat dan siap menerima kritikan dan saran. Masyarakat menjadi subyek dan obyek dalam pembangunan. Semua harus berpartisipasi aktif,” tandasnya.

Terkait banjir yang selalu terjadi di kampung halamannya. Muhammad Hardy meminta masyarakat mulai merubah pola pikir. Dicontohkan, masa gagal tanam akibat banjir yang saat ini terjadi, kata dia peladang sudah saatnya beralih menuju pertanian modern, seperti tanaman padi dalam pot.

“Sesuai rencana tata ruang kota, Desa Samba Katung secara perlahan berubah menjadi kota modern. Peralihan mata pencaharian masyarakat dari pertanian ke sektor industri perlu adaptasi. Sebagai contoh peningkatan ekonomi kreatif pengolahan nilai tambah dari sisa limbah kayu, bisa digunakan untuk membuat sendok, garpu, lantai panel. Ini perlu pendidikan dan pelatihan,” pungkasnya. (Dan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.