BERTAHAN ATAU MENYERANG

oleh -10 views
BERTAHAN ATAU MENYERANG 1

Palangka Raya (Dayak News)– Dalam dekade 2000-an akhir mendiang pelatih Spanyol, Luiz Aragones menemukan sebuah resep jitu permainan lini ke lini lewat sentuhan bola satu dua. Permainan kombinasi antara skill pemain dan strategi penyerangan bertahap ini dikenal sebagai Tiki Taka. Tidak diketahui siapa sesungguhnya peramu pertama Tiki Taka Spanyol yang membawa tim Matador juara Piala Eropa 2008 dan lalu berlanjut juara Piala Dunia 2010 yang lalu itu.

Banyak pihak percaya Tiki Taka adalah penyempurnaan dari Total Football Belanda pada dekade 1970-an yang diarsiteki oleh pelatih saat itu Rinus Mitchell. Lalu striker Oranye Johann Cruyff membawa sentuhan itu ke ranah Spanyol saat ia aktif sebagai pemain dan pelatih Barcelona.

Satu lagi sumber Tiki Taka berasal dari sekolah sepakbola La Masia yang menjadi laboratorium pelahirnya talenta-talenta sepakbola Matador seperti Fernando Hierro, Gerard Pique dan Andres Iniesta cs.

Bahkan sukses Tiki Taka menuai sukses hingga pertengahan 2010-an saat Barcelona dan Real Madrid jadi dua klub yang merajai kontestasi sepakbola Eropa.

Filosofi bermain Tiki Taka adalah memanfaatkan penguasaan bola di waktu normal di atas 60 persen. Dengan begitu lawan akan diperkecil peluangnya untuk membuat gol penyeimbang saat tertinggal.

Revolusi gaya bermain Spanyol turut mempengaruhi perubahan gaya bermain dari tim-tim lainnya di Eropa. Italia, Jerman dan Inggris turut terpengaruh untuk mengikuti gaya separuh Tiki Taka dengan kombinasi permainan khas negara mereka masing-masing. Tetapi harus diakui, tidak semua tiruan itu memiliki hasil sukses. Italia bahkan justru semakin terpuruk dalam kontestasi Eropa dan Dunia akibat meninggalkan gaya sepakbola Catenacio atau gerendel yang selalu membuat frustrasi lawan.

Jerman juga termasuk tidak berhasil untuk mengadopsi sistem Tiki Taka Spanyol dalam keseluruhan bangunan sistem bermain determinatif der Panzer. Bahkan upaya Pep Guardiola untuk menularkan gaya Tiki Taka di klub Bayern Munich, pada antara tahun-tahun 2014 hingga 2016 tidak terbukti efektif mengantar klub elit itu menjuarai Liga Champions. Guardiola justru dikritik oleh Hans Pieter Briegel mantan pemain nasional Jerman sebagai perusak gaya determinasi Jerman yang sudah empat kali juara dunia sampai tahun 2014.

Briegel berpandangan bahwa penguasaan bola bukan satu-satunya kunci untuk memenangkan pertandingan. Selain efisiensi diperlukan juga kemampuan kordinasi di lapangan tengah yang bisa membagi arus bola. Antara bertahan dan menyerang itu harus seimbang.

Sebagai contoh, formasi klasik Jerman yang sudah dijaga selama empat dekade sejak 1970-an adalah hanya menempatkan tiga pemain bertahan di depan kiper. Pola ini diyakini lebih menjadikan pertarungan para pemain gelandang der Panzer untuk menguasai bola di lapangan tengah.

Bagi Briegel lebih jauh, penguasaan bola akan jauh lebih berarti ketika permainan telah mencapai waktu-waktu kritis di mana Jerman biasanya memanfaatkan peluang kelelahan pemain bertahan lawan. Inilah yang sering dilupakan oleh setiap lawan Jerman ketika mereka unggul duluan.

Sejarah selalu terulang ketika Jerman yang tertinggal lalu berbalik menyamakan lalu unggul di menit-menit terakhir. Briegel mengalami semua itu ketika mengantar Jerman menjuarai Euro 1980, finalis Piala Dunia 1982 dan 1986. (CPS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.