Karena Air Mata Buaya dan Buaya Darat

oleh -
oleh
Karena Air Mata Buaya dan Buaya Darat 1
foto ilustrasi (ist)

Oleh : Christian Sidenden, Redaktur senior Dayak News

Dayak News – Dalam khasanah budaya verbal atau cerita populer, bicara soal buaya di negeri kita, selalu berkonotasi negatif.

Buaya adalah binatang reptil yang terkenal buas. Meskipun tidak selalu semua jenis buaya itu sama karakter dan naluri buasnya. Buaya muara (Lat. Crocodilus porosus) merupakan spesies buaya yang paling terkenal buas dan sangat karnivorus atau hobi makan daging. Hidup jenis buaya ini selalu di kawasan payau antara arus air tawar sungai dan lautan. Jenis buaya sapit (Lat. Tomistoma schlegelii) biasanya jarang sekali memangsa manusia, karena jenis ini hanya memakan ikan dan hewan akuatik (dekat dengan air) lainnya.

Buaya dalam khasanah sastra di Nusantara sering dijadikan istilah pengganti yang negatif. Misalnya, jika perilaku seseorang disebut suka berpura-pura, disebut “air mata buaya,” atau jika seseorang terkenal suka menipu disebut “buaya darat.” Padahal ada juga kisah legenda masyarakat mengenai buaya yang suka menolong manusia dan hewan lainnya di daerah Maluku, seperti pada link berikut:
https://www.inidata.id/suara-warga/4019604418/cerita-rakyat-buaya-learisa-kayeli-dikenal-baik-hati-dan-suka-menolong-manusia.
Tapi kisah legenda itu berbeda-beda di setiap daerah di negeri kita ini. Tetapi dari khasanah legenda di Maluku itu, setidaknya kita memperoleh info bahwa tidak selalu hubungan antara komunitas buaya dan komunitas manusia itu dalam keadaan konflik.

Sebuah kejadian baru-baru ini terjadi di kawasan Sungai Arut, Kotawaringin Barat, di mana seorang anak disebut dimangsa buaya ketika sedang berenang di tepian. Naas, si anak itu hanyut dan tenggelam. Pada waktu itu, menurut video-video yang beredar di platform WhatsApp, bahwa si anak malang itu diterkam buaya. Hingga dua hari barulah ditemukan si anak itu dalam kondisi telah meninggal. Walaupun tidak nampak juga ada bekas-bekas terkaman buaya, karena jazad sang anak itu syukurnya utuh. Muncul pertanyaan, apakah penyebab kematian dari sang korban itu? Benarkah bahwa si buaya itu yang menerkamnya? Buaya itu dari video-video yang beredar lalu diburu dan ditangkap lalu dibunuh. Buaya itu bukan manusia, yang bisa bicara, apa benar dia pelaku pembunuh si korban, kalau saja bisa ditanyai, tapi masyarakat sudah kadung menuduh, apa daya, matilah si buaya.

BACA JUGA :  MAMA, SAYA SEDANG BERPERANG DI UKRAINA

Sebenarnya, kisah ini memberi kita hikmah yang baik. Kondisi alam saat ini khususnya di Kalteng, lingkungan habitat buaya dan manusia itu telah berada di satu lokasi bersama. Keberadaan ekosistem di mana buaya-buaya itu hidup dan mempertahankan eksistensinya justru adalah tempat di mana manusia itu juga sedang beraktifitas. Inilah yang jadi persoalan, oleh karena perebutan wilayah dan sumberdaya kalori makanan antara kedua makhluk ini sedang bercampur.

Kejadian seperti di sungai Arut itu tentu bisa jadi bukan yang terakhir. Hikmah yang harus diambil, sebaiknya kita manusia yang diberikan kecerdasan oleh Tuhan, ya jangan terlalu mengganggu wilayah kehidupan buaya-buaya itu. Sebab keberadaan hewan buaya itu juga merupakan puncak rantai makanan, yaitu sebagai predator puncak di sistem ekosistem sungai dan muara sungai, yang memiliki tugas sebagai penjaga keseimbangan ekosistem juga. Justru kitalah yang bijak ketika melihat kondisi seperti itu, jangan terlalu dekat hidup di wilayah habitat buaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.