Menjadi Biasa, padahal Tidak Biasa

oleh -
oleh
Menjadi Biasa, padahal Tidak Biasa 1
Dr. Ahyar Wahyudi, M.Kep., FISQua, FRSPH, FIHFAA

Oleh : Dr. Ahyar Wahyudi, M.Kep., FISQua, FRSPH, FIHFAA

Dayak News – Dalam petikan inspiratif KH Ahmad Dahlan, “Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa,” tersirat sebuah pesan yang menggugah. Ungkapan ini mengajak kita untuk selalu kritis dan bijak dalam menyikapi berbagai kebiasaan yang mungkin sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari, namun belum tentu benar atau baik. Petikan ini menyoroti betapa pentingnya membiasakan diri dengan hal-hal yang benar, bukan sekadar mengikuti arus kebiasaan yang ada. Mari kita telusuri lebih dalam makna dan relevansi dari ajaran ini dalam konteks kehidupan kita sehari-hari.

Paradoks Kebiasaan

Seringkali, kita terjebak dalam rutinitas dan kebiasaan yang sudah melekat kuat. Kita cenderung merasa nyaman dengan apa yang sudah biasa kita lakukan, meskipun mungkin hal tersebut tidak selalu benar atau bahkan membawa dampak negatif. Menurut psikolog Barry Schwartz, dalam bukunya “The Paradox of Choice,” manusia sering kali terperangkap dalam rutinitas yang familiar karena merasa aman dan nyaman dengan pilihan yang sudah dikenalnya. Hal ini menyebabkan kita kurang kritis dalam mengevaluasi kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal “Psychological Review” oleh Ouellette dan Wood (1998) menemukan bahwa kebiasaan terbentuk melalui pengulangan perilaku yang dilakukan dalam konteks yang stabil. Kebiasaan ini sering kali sulit diubah karena telah menjadi otomatis dan terintegrasi dalam kehidupan kita. Namun, apakah semua kebiasaan tersebut layak untuk dipertahankan?

Kebiasaan dan Kebenaran

Mengapa kita sering membenarkan kebiasaan yang ada, meskipun mungkin salah? Psikolog sosial Leon Festinger dalam teori disonansi kognitifnya menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari konsistensi antara keyakinan dan tindakan mereka. Ketika terdapat ketidaksesuaian antara keduanya, individu akan berusaha merasionalisasi atau membenarkan tindakan mereka untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis.

Namun, membenarkan kebiasaan yang salah hanya akan memperkuat kebiasaan tersebut dan menghalangi perubahan menuju hal yang lebih baik. Sebaliknya, kita perlu memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Ini sejalan dengan prinsip continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan yang diajukan oleh ahli manajemen kualitas, W. Edwards Deming. Dalam pendekatannya, Deming menekankan pentingnya evaluasi dan perbaikan terus-menerus dalam segala aspek kehidupan dan pekerjaan.

Pendidikan sebagai Kunci

Untuk mengatasi kebiasaan buruk dan membiasakan yang benar, pendidikan memegang peran kunci. Pendidikan yang baik bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter dan pola pikir kritis. John Dewey, seorang filsuf dan pendidik terkenal, menyatakan bahwa pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus. Pendidikan yang efektif akan mengajarkan individu untuk selalu mempertanyakan, menganalisis, dan mencari kebenaran dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Menurut Dewey, pendidikan harus berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan reflektif, yang memungkinkan individu untuk mengevaluasi kebiasaan dan nilai-nilai yang mereka anut. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi alat yang ampuh untuk membiasakan yang benar dan mengubah kebiasaan yang salah.

Transformasi Sosial melalui Kebiasaan yang Benar

Perubahan kebiasaan bukanlah hal yang mudah, terutama ketika berhadapan dengan kebiasaan yang sudah mengakar dalam budaya dan masyarakat. Namun, perubahan tersebut sangat mungkin terjadi melalui upaya kolektif dan kesadaran bersama. Dalam konteks sosial, perubahan kebiasaan dapat dimulai dari lingkup kecil, seperti keluarga, sekolah, atau komunitas, sebelum meluas ke masyarakat yang lebih luas.

Dalam bukunya “The Power of Habit,” Charles Duhigg menjelaskan bagaimana kebiasaan individu dan kebiasaan organisasi dapat diubah melalui identifikasi dan modifikasi “keinginan” yang mendasari kebiasaan tersebut. Duhigg menunjukkan bahwa dengan mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik, kita dapat mencapai perubahan yang signifikan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.

BACA JUGA :  Meningkatkan Efektivitas Strategi Pengendalian Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) melalui Manajemen Strategis

Kesimpulan: Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

KH Ahmad Dahlan mengingatkan kita untuk selalu berusaha membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan kita yang penuh dengan rutinitas dan kebiasaan. Dengan berpikir kritis, berani mengakui kesalahan, dan terus belajar, kita dapat membiasakan diri dengan hal-hal yang benar dan baik.

Mari kita jadikan pendidikan sebagai landasan untuk membentuk kebiasaan yang benar. Melalui pendidikan yang kritis dan reflektif, kita dapat mengembangkan kemampuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki kebiasaan kita. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi pada transformasi sosial yang lebih baik.

Sebagaimana seekor kupu-kupu yang bertransformasi dari kepompong, demikian pula kita dapat mengalami metamorfosis dalam kehidupan kita. Dari kebiasaan yang mungkin keliru, kita dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa dampak positif bagi masyarakat. Inilah esensi dari membiasakan yang benar: sebuah perjalanan menuju kebenaran dan kebaikan yang abadi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.