Transformasi Kebutuhan Dasar Manusia di Era Digital

oleh -
oleh
Transformasi Kebutuhan Dasar Manusia di Era Digital 1
Dr. Ahyar Wahyudi, M.Kep., FISQua, FRSPH, FIHFAA

Oleh : Dr. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep., CISHR, FISQua, FRSPH, FIHFAA

Dayak News – Dalam dekade terakhir, kita telah menyaksikan transformasi besar dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dengan munculnya teknologi digital. Salah satu perubahan signifikan adalah bagaimana kita mendefinisikan kebutuhan dasar manusia. Konsep klasik piramida kebutuhan Maslow yang diusulkan oleh Abraham Maslow pada tahun 1943 telah menjadi kerangka kerja utama dalam memahami motivasi manusia. Namun, dengan perkembangan teknologi, ada penambahan yang signifikan pada piramida ini yang mencerminkan kebutuhan baru di era digital: WiFi dan baterai.

Maslow mengusulkan bahwa kebutuhan manusia terbagi menjadi lima tingkatan: kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan rasa memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis mencakup makanan, air, tempat tinggal, dan kehangatan. Ini adalah dasar dari kelangsungan hidup manusia. Namun, di era digital, banyak orang merasa bahwa akses ke WiFi dan daya baterai untuk perangkat mereka sama pentingnya dengan kebutuhan fisiologis dasar lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh Turkle (2011), teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sehingga akses internet dan daya perangkat digital kini dianggap sebagai kebutuhan dasar oleh banyak individu.

Keamanan dalam aspek tradisional mencakup perlindungan fisik dan kestabilan ekonomi. Kini, keamanan digital, termasuk perlindungan data pribadi dan keamanan online, menjadi bagian integral dari kebutuhan ini. Menurut Kaplan (1995), lingkungan digital yang aman dapat memberikan ketenangan pikiran yang sama pentingnya dengan keamanan fisik. Hubungan sosial dan afeksi masih menjadi kebutuhan penting. Namun, media sosial dan komunikasi digital telah menjadi sarana utama bagi banyak orang untuk memenuhi kebutuhan ini. Pengakuan dan penghargaan dari orang lain tetap penting. Di era digital, jumlah “like”, komentar, dan pengikut di media sosial sering kali menjadi indikator harga diri bagi banyak individu.

BACA JUGA :  Pencemaran Sampah Plastik Terhadap Lingkungan

Pengejaran potensi penuh dan kreativitas masih menjadi puncak dari piramida. Teknologi telah memungkinkan lebih banyak peluang untuk belajar dan berkembang, baik melalui akses informasi yang tak terbatas maupun platform untuk mengekspresikan diri. Seperti yang diungkapkan oleh Castells (2010), jaringan informasi global telah membuka pintu bagi individu untuk mengejar dan mencapai aktualisasi diri dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Perubahan ini tidak hanya mencerminkan evolusi teknologi tetapi juga bagaimana kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita. Ada beberapa alasan mengapa WiFi dan baterai menjadi kebutuhan dasar di era digital. Pertama, ketergantungan pada informasi kini dapat diakses secara instan dan terus menerus. Akses internet memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan berita, pendidikan, dan hiburan. Tanpa WiFi, akses ini menjadi terbatas, memengaruhi kemampuan kita untuk memperoleh pengetahuan dan tetap terinformasi. Kedua, komunikasi digital telah menjadi sarana utama untuk berinteraksi dengan keluarga, teman, dan kolega. Dalam banyak kasus, akses internet adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung, terutama di masa pandemi COVID-19 yang membatasi interaksi tatap muka.

Ketiga, banyak pekerjaan sekarang dilakukan secara online. Tanpa akses internet dan daya untuk perangkat digital, produktivitas dan kelangsungan pekerjaan bisa terhambat. Ini penting terutama bagi pekerja jarak jauh dan freelancer. Seperti yang dikemukakan oleh Bauman (2000), era modern telah menciptakan ketergantungan baru pada teknologi untuk mempertahankan produktivitas dan keterhubungan. Keempat, keamanan digital menjadi prioritas. Perlindungan terhadap ancaman cyber dan privasi data sangat penting di era digital, sehingga menambah dimensi baru pada kebutuhan keamanan manusia. Menurut Nissenbaum (2010), keamanan digital dan privasi menjadi komponen penting dari kebebasan dan keamanan individu di era modern.

Transformasi kebutuhan dasar manusia mencerminkan bagaimana teknologi telah mengintegrasikan dirinya ke dalam setiap aspek kehidupan kita. WiFi dan baterai, yang mungkin dianggap sebagai kebutuhan sekunder beberapa dekade lalu, kini telah menjadi elemen mendasar dalam piramida kebutuhan manusia. Perubahan ini menuntut kita untuk mengakui dan mengadaptasi pemahaman kita tentang apa yang benar-benar penting bagi kesejahteraan manusia di era digital.

BACA JUGA :  Justru Akan Banyak Perlu para Ahli Bantu Gibran

Menurut McLuhan (1964), medium adalah pesan. Dalam konteks ini, teknologi digital bukan hanya alat tetapi juga membentuk cara kita berpikir, berinteraksi, dan memenuhi kebutuhan dasar kita. Kehadiran teknologi dalam setiap aspek kehidupan telah mengubah lanskap kebutuhan manusia. Misalnya, WiFi telah menjadi infrastruktur yang esensial, serupa dengan listrik dan air. Tanpa konektivitas, banyak aspek kehidupan modern akan terhenti.

Lebih lanjut, menurut Rheingold (1993), komunitas virtual telah menggantikan banyak fungsi komunitas fisik. Media sosial dan platform komunikasi digital memungkinkan orang untuk tetap terhubung dan membangun hubungan, bahkan ketika mereka terpisah secara fisik. Ini mengubah cara kita memenuhi kebutuhan cinta dan rasa memiliki, menghubungkan orang melalui jarak dan waktu.

Menurut Putnam (2000), teknologi juga dapat mempengaruhi keterlibatan sosial dan modal sosial. Meski ada kekhawatiran bahwa teknologi dapat mengisolasi individu, penelitian menunjukkan bahwa teknologi juga dapat meningkatkan koneksi sosial dan keterlibatan komunitas. Misalnya, platform media sosial memungkinkan individu untuk terlibat dalam diskusi dan aktivitas komunitas secara online, memperluas jangkauan interaksi sosial mereka.

Selain itu, teknologi telah menciptakan peluang baru untuk pengembangan diri dan aktualisasi diri. Menurut Shirky (2010), platform digital memungkinkan individu untuk berbagi karya kreatif mereka dengan audiens global, memberikan kesempatan untuk pengakuan dan apresiasi yang lebih besar. Ini menciptakan jalan baru bagi individu untuk mencapai potensi penuh mereka.

Namun, transformasi ini juga membawa tantangan. Menurut Carr (2010), ada kekhawatiran bahwa ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi kapasitas kognitif dan kemampuan untuk berpikir mendalam. Teknologi telah mengubah cara kita memproses informasi dan berinteraksi dengan dunia, dan ada kekhawatiran bahwa ini dapat memiliki dampak negatif pada kemampuan kita untuk berkonsentrasi dan berpikir kritis.

BACA JUGA :  Bhabinkamtibmas Kawal Penyaluran BLT Dana Desa

Meskipun demikian, manfaat teknologi dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia tidak dapat diabaikan. WiFi dan baterai telah menjadi kebutuhan esensial dalam dunia yang semakin terhubung. Tanpa akses ke teknologi ini, banyak aspek kehidupan modern akan terhenti. Transformasi ini mencerminkan perubahan fundamental dalam cara kita memahami dan memenuhi kebutuhan dasar kita.

Dalam refleksi hidup, perubahan ini dapat dianalogikan dengan perjalanan mendaki gunung. Di masa lalu, kita hanya memerlukan bekal dasar seperti makanan dan air untuk bertahan hidup dalam pendakian. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, kita kini membawa peta digital, perangkat komunikasi, dan sumber daya energi tambahan. Peralatan ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan tetapi juga memastikan keamanan dan keterhubungan kita selama perjalanan.

Seperti halnya pendakian gunung, kehidupan di era digital membutuhkan adaptasi terhadap teknologi baru untuk mencapai puncak aktualisasi diri. Kita harus mengakui bahwa kebutuhan dasar kita telah berkembang, mencakup elemen-elemen yang sebelumnya tidak terpikirkan tetapi kini menjadi esensial. WiFi dan baterai adalah simbol dari bagaimana teknologi telah meresap ke dalam inti kehidupan kita, mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan mengejar kebahagiaan.

Dalam kesimpulannya, perubahan kebutuhan dasar manusia di era digital mencerminkan evolusi yang lebih luas dalam cara kita hidup dan berinteraksi dengan dunia. Transformasi ini, meski menantang, juga membuka peluang baru untuk pertumbuhan dan perkembangan. Dengan memahami dan mengadaptasi perubahan ini, kita dapat mencapai kesejahteraan yang lebih besar di dunia yang terus berkembang.

Tulisan ini terinspirasi dari pemikiran Prof. Dr. Burhan Bungin, M.Si., Ph.D., CIQaR, CIQnR, yang senantiasa mendorong kita untuk memahami dan mengadaptasi perubahan dalam konteks sosial dan teknologi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.