Sampai Bulan Mei 2024, Bidhumas Polda Kalimantan Tengah Berhasil Tangani 14 Kasus Berita Bohong atau Hoax

oleh -
oleh
Sampai Bulan Mei 2024, Bidhumas Polda Kalimantan Tengah Berhasil Tangani 14 Kasus Berita Bohong atau Hoax 1
Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Tengah, Kombes Pol Erlan Munaji.

Palangka Raya (Dayak News) – Kehadiran Tim Virtual Police Bidhumas Polda Kalimantan Tengah dalam memberantas Kasus Ujaran Kebencian, Berita Bohong atau Hoax hingga masalah yang berbalut dalam pelanggaran undang-undang ITE patut diacungi Jempol.

Terbukri, Hingga Bulan Mei 2024 ini, Bidhumas Polda Kalteng berhasil menangani 14 Kasus Berita Bohong atau Hoax yang terjadi diwilayah hukum Polda Kalimantan Tengah.

Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Tengah, Kombes Pol Erlan Munaji mengatakan, sejak Januari hingga Mei 2024 pihaknya telah menangani sebanyak 14 kasus informasi hoax diwilayah Hukum Polda Kalimantan Tengah.

“Alhamdulilah, Penanganan informasi hoax telah menjadi atensi kami karena dampak dari informasi atau berita bohong tersebut sangatlah berbahaya,” katanya, Kamis (30/05/2024)

Dijelaskan Kombes Pol Erlan Munaji, adapun 14 kasus tersebut terjadi pada bulan Januari sebanyak satu kasus, bulan Februari satu kasus, bulan Maret empat kasus, bulan April tiga kasus dan bulan Mei lima kasus.

Diterangkannya juga, bahwa Dalam menangani kasus hoax di Kalimantan Tengah, pihaknya mengutamakan penanganan secara retorative justice kepada para oknum masyarakat yang terlibat dalam penyebaran berita bohong atau Hoax ini.

“Hal itu kami lakukan karena banyak dari masyarakat yang belum sadar akan bahayanya menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Virtual Police Bidhumas Polda Kalimantan Tengah, Ipda H Shamsudin menambahkan, dari 14 kasus informasi hoax tersebut mencakup sebagian penyebar informasi hoax dan sebagian lainnya merupakan pembuat informasi hoax.

Urai Perwira Pertama berpangkat Balok satu emas dipundaknya tersebut, dari analisa pihaknya, informasi hoax tersebut terjadi akibat banyak dari oknum masyarakat pada saat mengalami suatu kejadian, kemudian secara langsung berasumsi sendiri dan menyebarkannya ke media sosial tanpa mencari tahu kebenarannya dulu.

BACA JUGA :  PPKM, Personel Polsek Sungai Sampit Bagikan Masker Gratis

Dirinya mencontohkan seperti warga Kota Palangka Raya yang membuat informasi di Facebook seolah-olah dirinya hendak dibegal pada saat melintas di Jalan Trans Kota Palangka Raya – Kabupaten Katingan.

“Padahal itu karena ban mobil oknum warga ini sudah berusia lama, sehingga terkelupas. Tetapi oknum warga ini merasa jika terdapat seorang begal yang melemparkan suatu benda ke ban mobilnya,” ujarnya.

Bahkan lanjut pria yang kerap disapa Cak Sam ini melanjutkan, terdapat oknum warga yang dengan sengaja membuat informasi hoax hanya untuk menagih utang kepada korbannya.

Hal ini menandakan masih sangat kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahayanya informasi hoax, sangat minim dan lebih memilih media sosial untuk menyelesaikan permasalahan pribadi.

“Karena Perkembanngan media sosial ini sangat pesat. Kejadian apa saja yang diunggah di media sosial mudah untuk viral. Hal ini lah yang diharapka masyarakat agar dapat ikut viral,” tuturnya.

Padahal ada sanksi kurungan badan selama enam tahun yang tertuang dalam UU ITE menanti para oknum-oknum warga yang membuat maupun menyebarkan informasi hoax

“Tetapi kami mengutamakan pembinaan. Karena bisa saja oknum warga ini tidak mengetahui bahaya informasi hoax yang dibuat atau dibagikan sehingga ke depan oknum warga tidak lagi mengulangi perbuatannya kembali,” Tutup Cak Sam. (PR/AJn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.