TAIWAN SAHKAN UU PENGURANGAN GAS RUMAH KACA

oleh -9 views
Representatif TETO John Chen

Palangka Raya, 30/11/19 (Dayak News) . Menteri Perlindungan Lingkungan Taiwan Chang Tzi-chin mengatakan pemerintah telah mengesahkan “Undang-Undang Pengelolaan dan Pengurangan Gas Rumah Kaca”.

Selain itu, pemerintah Taiwan juga sudah menyelesaikan “Jaringan Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim,” katanya, Sabtu (30/11) terkait konferensi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Spanyol yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2019.

Dia mengatakan, “Skema Upaya Pengurangan Gas Rumah Kaca”, dan merumuskan ” Rencana Aksi Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca” dan lainnya. 

Pada tahun 2025, Taiwan diperkirakan akan mencapai tujuan 20 GW untuk pembangkit listrik tenaga surya dan 6,9 GW untuk pembangkit listrik tenaga angin. 

Taiwan juga telah memperkuat insentif keuangannya untuk mendukung pengembangan industri teknologi energi hijau dan secara aktif mempromosikan “Rencana Pelaksanaan Finansial Hijau”.

Menteri Chang menyebutkan, satelit FORMOSAT-3 yang diluncurkan oleh Taiwan pada tahun 2006, telah mengumpulkan lebih dari 10 juta data meteorologi sejauh ini, menyediakan penelitian ilmiah gratis kepada para sarjana dari berbagai negara. 

Satelit FORMOSAT-7 yang diluncurkan tahun ini, akan lebih efektif meningkatkan keakuratan prakiraan cuaca ekstrim, dan memberikan kontribusi positif bagi prakiraan cuaca global serta perubahan iklim.

Menteri Chang mengatakan, Taiwan telah merumuskan “Rencana Upaya Adaptasi Perubahan Iklim Nasional” untuk membangun sistim ketahanan dalam menanggapi perubahan iklim dari delapan aspek seperti bencana, infrasruktur kelangsungan hidup, sumber daya air, keamanan pertanahan, pesisir pantai, energi dan industri, pertanian, dan kesehatan.

“Sangat tidak adil bagi Taiwan untuk dikeluarkan dari organisasi internasional karena prasangka politik dari China,” katanya.

Ini tidak hanya bertentangan dengan semangat UNFCCC yang menyerukan semua negara bekerja sama secara luas dalam perubahan iklim global, juga mengabaikan Perjanjian Paris dan juga bertentangan dengan tujuan Piagam PBB.

BACA JUGA :  PERESMIAN TERMINAL BANDARA TJILIK RIWUT TERUS DIEVALUASI

Perjanjian Paris menekankan “keadilan iklim” dan  menyerukan pentingnya tindakan iklim oleh negara-negara. Ini akan melemahkan struktur internasional dan membahayakan dunia. 

“Taiwan adalah teman yang tulus dan bertanggung jawab yang berminat berkontribusi. Taiwan berusaha membuat dunia menjadi lebih baik. Taiwan benar-benar layak dimasukkan dalam sistem perubahan iklim global,” katanya.

Representatif Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen mengatakan, sesuai dengan semangat UNFCCC, Taiwan secara aktif membantu negara-negara berkembang dalam rencana mitigasi dan adaptasi jangka panjang untuk memerangi perubahan iklim, serta menunjukkan tekad kami untuk berkontribusi kepada dunia. 

Misalnya, Taiwan membantu Belize dan Honduras dalam pengurangan bencana dan peringatan pencegahan bencana, membantu Kepulauan Marshall mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 992 ton setiap tahun.

Taiwan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim, dan telah mengembangkan banyak teknologi yang sesuai, dan bersedia untuk berbagi dengan negara lain. 

Namun karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat LSM, dan tidak dapat menyerahkan Nationally Determined Contribution (NDC) Taiwan kepada Sekretariat UNFCCC. 

Seperti negara lainnya, Taiwan seharusnya memiliki peluang yang sama untuk bergabung dengan mekanisme pengurangan karbon global, menegosiasikan kegiatan terkait dengan Perjanjian Paris, dan bekerja sama untuk memberikan kontribusi usaha maksimal bagi lingkungan dan generasi mendatang.

John Chen mengatakan bahwa perubahan cuaca telah terjadi, dan telah mempengaruhi negara lain. Harapannya negara-negara lain tidak mengesampingkan Taiwan hanya karena masalah politik.

“Taiwan bersedia bekerja sama dengan anggota masyarakat internasional untuk menjaga dan melindungi dunia,” demikian Jhon Chen. (Dayak News/Den/sky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *