SENDENG 12 DAN KISAH MISTIK DIBALIK RAIBNYA BUE MANGGONG BIN SALAMAT KAMBE

oleh -
SENDENG 12 DAN KISAH MISTIK DIBALIK RAIBNYA BUE MANGGONG BIN SALAMAT KAMBE 1
Bue Manggong Bin Salamat Kambe (73) yang sempat menghilang selama lima hari berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, Kamis (19/8).

Kasongan,(Dayak News)– Bue Manggong Bin Salamat Kambe (73) yang sempat menghilang selama lima hari berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, Kamis (19/8) di belakang Kampung desa Rantau Asem. Ada cerita mistik yang dialami oleh putra tertua tertua Salamat Kambe tersebut. Sebagaimana diketahui, Salamat Kambe adalah tokoh sakti nan melegendaris di Bumi Tambun Bungai.

Ketika ditemukan Manggong dalam keadaan basah kuyup terendam air. Saat dipanggil, ia tidak bereaksi. Tatapan matanya kosong. Kondisi badannya sangat lemas.

Padahal tempat itu tidak jauh dari pondok kebun durian dan tidak luput dari perhatian tim pencari. Tapi keberadaannya seolah olah raib ditelan bumi.

Menyadari kondisinya yang terlihat sangat kelelahan, tim berinisiatif membawanya pulang ke rumah.

Kini setelah dua hari dirawat, kakek Manggong berangsur angsur pulih. Kesehatannya mulai kembali seperti sedia kala.

Meskipun bercerita secara terbata bata. Putra pejuang kemerdekaan alamarhum Salamat Kambe ini, membuka sedikit kisah mengapa sempat menghilang.

Dalam penuturan, kepada anak anaknya, ia mengisahkan, sejak keluar dari rumah, ada “saudara” yang telah membawanya berjalan jalan keliling kampung.

Begitu asyiknya plesiran, pria sepuh ini lupa waktu, siang dan malam. Warga yang sempat melihatnya keheranan. Bue Manggong terlihat berjalan menuju arah kebun durian belakang kampung seperti asyik bersama sahabatnya.

Pada suatu tempat, bue Manggong berhenti dan bersilaturahmi dengan para sanak familiy dan mengajaknya makan siang. Setelahnya melanjutkan perjalanan lagi bersama dengan “sahabat” itu.

Hingga pada suatu ketika, ia mendengar bunyi gong dari kejauhan. Setelah didekati ternyata itu adalah gong yang dibunyikan tim pencari. Sudah lima hari meninggalkan kampung Rantau Asem tanpa jejak, tanpa makan dan minum.

SALAMAT KAMBE DAN KUNTAW

Sugianto, selaku anak bungsu kakek Manggong menceritakan, ayahnya merupakan putra tertua dari almarhum Salamat Kambe.

Sebelum kejadian, kata dia, ayahnya sering berbicara mendapat wahyu dari alam gaib. Namun, tidak satupun anaknya mengerti. Hingga peristiwa itu terjadi, membuat mereka tersadar akan suatu perjuangan yang masih belum terselesaikan.

Salamat Kambe adalah tokoh fenomenal yang cukup melegendaris di Kalimantan Tengah. Hampir seluruh daratan di Kalimantan Tengah telah menjadi tempat domisili sang tokoh.

Misinya adalah melatih pemuda dayak pencak silat. Tujuannya, bela diri menjadi alat mempertahankan diri dari penjajahan.

“Tahun 1932 Bue Salamat Kambe melatih main (silat) di desa Pahandut,” tutur Sugianto (21/8).

Kehidupan Salamat Kambe yang nomaden dan selalu berpindah dari desa ke desa membuatnya terkenal di pelosok Kalimantan Tengah. Warisannya masih melestari dengan ilmu bela diri yang disebut orang dayak sendeng 12, kuntaw.

Hampir dipastikan setiap desa di Kalimantan Tengah, ada beberapa pemuda yang pandai memainkan bela diri suku dayak tersebut.

Kata Sugianto, ada 12 orang anak kandung Salamat Kambe dan 100 lebih untuk anak angkat.

“Alamarhum kakek adalah sepupu satu kali pejuang Tjilik Riwut. Meskipun dulu turut merintis dan berjuang pada jaman penjajahan tapi beliau tidak bersedia menerima penghargaan,” kisahnya.

Perjuangan Salamat Kambe berusaha diteruskan melalui anak cucu.

Salamat Kambe merupakan tokoh kelahiran tahun 1897 hingga penghujung usia, masih gayeng melatih bela diri. Tahun 1983, Salamat Kambe wafat dan dimakamkan di pekuburan Muslimin Kelurahan Samba Kabayan, belakang SD 2.

Perjuangan belumlah berakhir, ada satu yang membuat Sugianto galau.

Kini warisan leluhur itu semakin menghilang seiring waktu. Saat ini jarang ditemukan ada anak muda yang pandai main pencak silat kuntaw. Meskipun dulu pernah berdiri perguruan pencak silat asli Kalimantan Tengah di kotamadya Palangka Raya. Tapi cita citanya kandas. “Mudah mudahan dengan kejadian ini menjadi petunjuk. Apa yang diwariskan leluhur harus kami pertahankan dan lanjutkan,” pungkasnya. (Dan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.