POLDA KALTENG TANGANI 5 KASUS TP PERDAGANGAN ORANG, DIRRESKRIMUM : MELIBATKAN ANAK DIBAWAH UMUR

oleh -
oleh
POLDA KALTENG TANGANI 5 KASUS TP PERDAGANGAN ORANG, DIRRESKRIMUM : MELIBATKAN ANAK DIBAWAH UMUR 1
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalteng, Kombes Pol Faisal F Napitupulu.

Palangka Raya (Dayak News) – Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah saat ini tengah tangani Lima Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang, diantara kasus tersebut Melibatkan Anak Dibawah Umur hingga perempuan dan laki-laki dewasa.

Dikonfirmasi terkait penanganan kasus tersebut, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalteng, Kombes Pol Faisal F Napitupulu yang dibincangi awak media, Sabtu (24/06/2023) menyatakan, bahwa saat ini jajaran Ditreskrimum Polda Kalteng telah menangani lima kasus terkait TPPO.

Saat ini pun pihaknya terus berupaya mengungkap perkara serupa. Dalam perkara TPPO tersebut pihaknya berkomitmen akan terus memberantas pelaku-pelaku tindak TPPO yang sangat meresahkan masyarakat terkhususnya di Wilayah Hukum Polda Kalimantan Tengah.

Diuraikan Kombes Pol Faisal F. Napitupulu yang menjadi Fokus pihaknya saat ini yakni membongkar kedok pelaku yang melakukan TPPO yang mempekerjakan anak di bawah umur untuk dapat melayani nafsu-nafsu pria hidung belang.

“Tidak hanya anak di bawah umur orang dewasa juga ada, namun yang mendominasi memang anak di bawah umur. Saat ini Polda Kalteng dan Polres di jajaran ada menangani lima kasus TPPO dan saat ini masih dalam tahap penyidikan,” kata perwira menengah Polri tersebut.

Faisal menambahkan, terus mengingatkan kepada seluruh masyarakat yang berada di provinsi yang memiliki luas daerahnya dua kali lipat dari Pulau Jawa ini agar benar-benar menjaga pergaulan anaknya dengan baik.

“Jangan sampai anak bergaul salah, sehingga bisa menjadi korban TPPO yang bisa merugikan diri sendiri. Peran orangtua dalam menjaga anak-anaknya terkhusus anak perempuan harus ditingkatkan agar mereka tidak menjadi korban TPPO yang belakangan sudah lima kasus ditangani Polda Kalteng dan Polres jajaran,” tegasnya.

Ditambahkannya Pula, Pihaknya telah berkomitmen untuk terus membongkar praktik-praktik kejahatan TPPO yang selama pelaksanaannya berjalan dengan cara terselubung.

Untuk membongkar tindak kejahatan tersebut, agar masyarakat juga informasi-informasi terkait hal itu sehingga pelakunya dapat diamankan dan kejahatan TPPO terus diungkap parat kepolisian.

“Konkretnya sekecil apapun informasi dari masyarakat, maka kami akan bergerak untuk melakukan penyelidikan. Maka dari itu masyarakat jangan sungkan menyampaikan informasi apabila ada tindak kejahatan apapun yang ada di tengah masyarakat, agar dapat kami tindak tegas,” ucapnya.

Sementara itu, Satuan Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Polri dan Polda jajaran yang dibentuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terus melakukan penindakan terhadap para pelaku TPPO.

Hingga per tanggal 22 Juni, Satgas telah menangani sebanyak 494 Laporan Polisi. Dari ratusan LP tersebut, sebanyak 580 tersangka telah dibekuk.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan, berbagai macam modus para tersangka menjerat para korban TPPO.

“Terbanyak yakni mengiming-imingi korban bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia atau Pekerja Rumah Tangga. Modus ini tercatat ada 375 kasus,” kata Ramadhan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/6).

Salah satunya kasus yang diungkap oleh Polda Kepri. Dua orang korban yang akan dijadikan PMI diamankan oleh Polsek Batu Ampar, Polresta Barelang, Polda Kepri.

Dalam pengakuannya, korban yang masih di bawah umur diimingi bekerja di tempat billiard di Malaysia dengan gaji Rp 10 juta per 10 hari.

Lalu ada lagi kasus yang diungkap Polsek Kualuh Hilir, Polres Labuhanbatu, Polda Sumatera Utara. Dalam kasus ini, aparat mengamankan beberapa TKI yang pulang dari Malaysia tidak sesuai prosedur.

Bahkan, untuk kepulangan ke Indonesia, para TKI ini harus dengan cara masuk ke dalam air laut untuk menuju perahu motor. Tak hanya di situ, para korban setelah berangkat naik perahu motor ditempatkan ke pinggir pantai yang banyak semak-semak, sebelum dijemput menggunakan motor.

BACA JUGA :  Mendukung Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Bagi Anak- anak , Anggota Polsek Timpah Lakukan Pengamanan

Modus lainnya yang terbanyak yakni para korban dijadikan Pekerja Seks Komersial. Angka dalam kasus ini yakni sebanyak 132 kasus. Modus ini mempekerjakan korban wanita bahkan ada yang di bawah umur sebagai PSK melalui telepon atau aplikasi Online.

Salah satu kasus yang diungkap terjadi Bengkulu. Satgas TPPO Polda Bengkulu mengamankan pelaku yang sedang mengeksploitasi seksual terhadap anak yang masih berumur 14 tahun.

Ada juga kasus yang diungkap Polres Kutai Timur, Polda Kalimantan Timur yang menangkap seorang pria yang mempekerjakan wanita dengan modus open BO di salah satu tempat hiburan malam (THM) dengan tarit mencapai jutaan rupiah.

Dua modus lainnya TPPO ini yakni mempekerjakan korban sebagai Anak Buah Kapal (ABK) dengan 6 kasus dan eksploitasi anak sebanyak 32 kasus.

“Dari ratusan kasus yang ditangani Satgas TPPO Bareskrim Polri dan Polda jajaran, telah menyelamatkan korban sebanyak 1.671,” kata Ramadhan.

Dari ribuan korban tersebut, Ramadhan merinci ada 762 korban perempuan dewasa dan 96 perempuan anak. Kemudian untuk korban laki-laki dewasa ada 764 dan laki-laki anak ada 49 orang.

Lebih lanjut, Ramadhan mengatakan, dari ratusan kasus yang diungkap, saat ini perkembangannya 92 kasus masuk tahap penyidikan. Kemudian 375 di tahap penyidikan dan berkas sudah lengkap atau P21 ada satu kasus.

Dalam kesempatan ini, Ramadhan mengimbau kepada masyarakat untuk tak mudah tergiur dengan tawaran bekerja dengan gaji tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Ia meminta masyarakat memastikan apakah perusahaan penyalur tenaga kerja ini resmi. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat mendapatkan hak-hak perlindungan sosial, kesejahteraan dan hukum.(PR/AJn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.